MERAIH KETENANGAN HATI DAN JIWA DENGAN SHALAT
PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA
Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Trainer “Pendalaman Terapi Shalat Bahagia”
Shalat dan stres merupakan dua hal yang saling berhubungan, mengapa demikian? Shalat merupakan ibadah yang berisi Dzikir ( mengingat Allah ) dan berdoa kepada Allah SWT. Shalat secara bahasa berarti doa, sedangkan Stres merupakan perasaan tekanan psikologis yang diakibatkan oleh berbagai hal. Rasa stres yang tinggi dan tidak ada penanganan tindak lanjut bisa menyebabkan seseorang menjadi gangguan jiwa (gila). Penyebab utama dari stres itu sendiri adalah karena seseorang tidak memiliki keyakinan terhadap Dzat yang Maha Kuasa, dengan tidak memilikinya keyakinan terhadap tuhan sang pencipta alam, ini membuat mereka hidup seakan-akan hanya akan mengalami hidup sekali saja, terlalu cintanya terhadap duniawi yang sifatnya hanya sementara telah membuat seseorang menjadi kehilangan arah dan tujuan, sehingga terlalunya memikirkan hal-hal yang berbelit dan rumit yang terjadi di dunia, mereka lupa akan akhirat yang sebenarnya adalah tempat terakhir yang akan kita tuju kelak. Pemikiran duniawi inilah yang mengakibatkan tingginya tekanan pada seseorang yang menjadikannya memikiki gangguan kejiwaan.
Seorang muslim yang stres biasanya disebabkan karena orang tersebut tidak memiliki keyakinan yang begitu kuat terhadap sang Khalik dan Agamnya. Hal inilah yang menjadikan seseorang dapat merasakan adanya rasa galau, gelisah yang kemudian menimbulkan tekanan batin dan mental
Hubungan antara shalat dan stres adalah shalat bisa menjadi obat stres dan orang yang melalaikan shalat akan rentan mengalami stres. Berikut adalah penjelasannya:
1. Shalat bisa menjadi obat stres
Shalat bisa menjadikan obat bagi seseorang tang stres. Bila seseorang sudah rutin melaksanan ibadah shalat, tetapi masih saja mengalami stres, maka barangkali ibadah shalat seseorang tersebut masih kurang, baik dari segi kualitas dan kuantitas.
Dengan menggunakan kualitas dan kuantitas shalat yang baik, ketengan akan di capai dan stres perlahan-lahan akan mampu diatasi. Didalam Al-Qur’an disebutkan bahwa tidak akan dicapai suatu ketenangan batin kecuali hanya dengan mengingat Allah. Maka shalat adalah cara kita untuk bisa berkomunikasi dengan sang pencipta tanpa adanya pembatas apapun. Orang yang mampu shalat dengan khusyu’ akan mampu mendapatkan ketenangan lahir, batin, terhindar dari berbagai penyakit khusunya penyakit psikologi seperti stres.
Orang yang mudah stres biasanya adalah orang yang tidak mempunyai keyakinan kuat kepada sang pencipta-Nya dan agamanya. Ia memiliki keraguan atas apa yang terjadi terhadap dirinya adalah kehendak dari sang pencipta. Untuk menyembuhkan penyakit stres itu tidak perlu pergi ke psikiater terkenal atau apapun, cukup melakukan terpai shalat secara continue dan dengan cara baik yang telah ditetapkan oleh syariat, stres dan tekanan mental lainnya akan bisa sembuh dengan perlahan-lahan . Amalan lain yang bisa menyembuhkan penyakit stres dan penyakit mental lainnya adalah dengan memperbanyak Dzikir, tilawah Al-Qur’an, Qiyamulail, puasa, dsb.
2. Orang yang melalaikan shalat akan rentan mengalami stres
Stres dan shalat juga memilik korelasi sebab akibat. Seorang yang rajin shalat akaan memiliki risiko yang lebih sedikit untuk mengalami stres dibandingkan dengan seseorang ang jarang shalat. Seorang yang jarang melaksanakan shalat, akan sangat mudah mengalami kegalauan hati, keresahan hidup dan stres yang bisa menyerang psikologisnya.
Stres tidak hanya akan berupa gangguan psikologi seperti orang gila saja, tetapu keresahan hati, kegalauan dan ketidak tentraman hidup akan dirasakan oleh mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah melaksanakan shalat. Shalat mwnjadi pembeda antara seorang muslim dengan yang bukan muslim. Dan umat muslim mempunyai pengobatan psikologi yang sangat ampuh dan mujarab yaitu dengan terapi sholat.
Shalat tak hanya mampu menjadi obat penyakit stres, namun juga meemiliki khasiat yang sangat luar biasa yang bisa mengobati berbagai penyakit lainnya seperti diabetes, darah tinggi, serta berbagai penyakit perut berbahaya. Shalat yang biasanya sangat efektif menyembuhkan aneka penyakit tersebut adalah shalat dimalam hari atau biasa diistilahkan dengan Qiyamulail. Bangun dimalam hari untuk menjalankan berbagai rutinitas ibadah termasuk didalamnya ibadah shalat.
Kesibukan duniawi memang sering membuat seseorang mengalami gangguan psikologi yang tidak bisa ditebak. Sebagai salah satu tauladan, Nabi Muhammad SAW sesungguhnya telah memberi resep yang mujarab agar situasi seperti itu tidak terjadi dan berkembang menjadi hal-hal negatif yang dapat merugikan orang lain yaitu dengan terapi shalat.
Nabi Muhammad SAW, selain sebagai rasul, beliau juga adalah sosok manusia biasa seperti pada umunya. Beliau juga melakukan aktivitas kedunian pula, seperti berdagang atau berusaha mencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Seperti halnya manusia pada umumnya, ketika intensitas aktivitas keduniaan beliau semakin meningkat, beliau juga kerap merasa lelah dan ingin beristirahat untuk menenangkan pikiran dan jiwanya agar tetap terkontrol dan kondusif. Dalam Hadits disebutkan, jika Nabi SAW tertimpa suatu masalah yang sangat berat, maka beliau segera melaksanakan ibadah shalat ( HR.Abu Dawud).
Nabi Muhammad SAW disebutkan juga kerap kali menyuruh sahabatnya, Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan azan shalat ketika beliau merasa telah terlalu tersibukkan oleh urusan duniawi yang membuat Nabi merasa letih, “Wahai Bilal, berdirilah, lantunkan azan dan istirahatkanlah kita dengan shalat.” ( HR. Abu Dawud). Dalam Hadits lain di riwayatkan, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “sesungguhnya shalat dijadikan untukku sebagai penenang hati.” (HR. An-Nasa’i ).
Shalat dapat menenangkan hati, pikiran, dan jiwa yang gundah juga fisik yang telah letih akibat tenaga terlaly banyak diforsir untuk kegiatan duniawi. Sebab, dalam shalat, seseorang sejatinya tengah menghadap Allah SWT, meninggalkan sejenak urusan duniawi untuk memberikan bagi rohani atau jiwanya untuk berkomunikasi langsung dengan sang Khalik. Dalam Al-Qur’an, dzikir disebutkan dapat membuat hati menjadi tenang dan tenteram, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-ra’d [13]: 28).
Dalam salah satu Hadits, Nabi Muhammad SAW juga mengatakan, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu dari rumah-rumah Allah (masjid) yang disitu mereka membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan saling mengajarkannya diantara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang ada di sisi-Nya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Asrar ash-Shalah mengatakan, dalam shalat, hati dan raga seorang hamba bersama-sama menghadap Allah. Seluruh bagian tubuhnya bergerak menunjukkan kerendahan diri sebagai hamba, sementara hatinya terhubung kepada-Nya. Oleh karena itu, semua bagian tubuh dan hati hamba yang shalat akan mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Hanya saja hati hamba yang shalat akan mendapat imbalan yang lebih baik, lebih sempurna, dan lebih besar dibandingkan dengan yang didapatkan bagian tubuhnya. Sebab, ia menghadap kepada Tuhannya, senang dan bahagia berada dekat dengan-Nya. Ia merasakan kenikmatan penuh saat berdiri di hadapan-Nya.
Ketika seseorang tenggelam dalam shalatnya, sibuk mengingat Allah, dan berdoa penuh harap dan yakin, hati pun jadi tenteram, dada menjadi lapang, pikiran menjadi tenang, fisik pun segar kembali, selesai shalat, ia pun bisa kembali beraktivitas keduniaan dengan baik dan dengan hati yang tenang serta bahagia. Segala problem dan kesulitan yang sebelumnya membebani pun menjadi terasa ringan. Ini terjadi tentunya jika shalat dilaksanakan dengan baik, sesuai petunjuk Nabi Muhammad SAW dan khusyu’, menyerahkan jiwa dan raga sepenuhnya kepada Allah dengan merendahkan diri dan ikhlas di hadapan-Nya.
Selain shalat untuk menenangkan hati dan pikiran, ada beberapa hal yang bisa dilakukan supaya hati kita selalu merasa tenang, damai, dan tentram yaitu:
1. Selalu mengngat Allah
Manusia yang beriman, akan senantiasa mengingat Allah dan menjadikan Allah sebagai sandaran hidupnya dimana pun dan kapan pun ia berada. Untuk itulah, manusia yang beriman akan yakin dan benar-benar menyandarkan hiddupnya kepada Allah, karena ia tau bahwa Allah dapat melakukan apapun, dan menolong hamba-Nya dalam kondisi apapun.
2. Membaca Al-Qur’an
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. ( Q.S. Al-A’raaf: 2014)
Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu cara untuk membuat diri kita merasa tenang dan tenteram. Hal ini karena di dalam Al-Qur’an terdapat berbagai petunjuk yang jika dipahami akan benar-benar mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan sebagai bentuk petunjuk. Hal ini sebagaimana Allah sampaikan bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar petunjuk yang nyata. Adanya petunjuk yang nyata inilah yang membuat kehidupan seseorang menjadi lebih tenang, karena berada dalam jalan yang benar dan tidak menyesatkan.
3. Berpikiran positif
Berpikiran positif berarti selalu mengambil kebaikan dan hikmah yang ada dalam setiap kejadian. Jika manusia tidak berpikiran positif dan tidak tenang dalam menghadapi masalah yang menimpanya, bisa dipastikan seorang tersebut bisa mengalami stres atau depresi. Dalam hal ini berpikir positif sangat mempengaruhi diri kita baik secara fisik maupun psikologi. Maka dari itu, pperlu pikiran yang positif agar dapat menjadi sehat luar dan dalam. Ketenangan tidak akan muncul jika diri kita diliputi dengan pikiran-pikiran yang negatif.
4. Bersyukur atas apa yang ada
Bersikap tenang akan muncul jika dalam diri kita juga selalu bersyukur atas kelebihan apapun yang dimilikinya. Tanpa bersyukur, manusia akan selalu resah dan gelisah tanpa pernah melihat keadaan yang dimilikinya. Untuk itu bersyukur adalah salah satu cara untuk membuat diri tenang.
Dalam kondisi apapun, baik kaya, miskin, sehat, sakit, selalu ada sisi kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menanggapinya segala hal tersebut dengan cara bersyukur yang tiada henti.
5. Menyalurkan emosi dengan positif
Penyaluran emosi harus dilakukan dengan cara yang positif. Emosi negatif tidak boleh ada dalam diri kita, untut itu ia harus dibuang secara perlahan-lahan. Orang yang mampu menyalurkan emosinya secara positif, maka akan mendapatkan ketenangan dalam hidupnya.
6. Melakukan hal yang disukai
Hal yang disukai atau hobby adalah salah satu cara agar dapat mendapatkan ketenangan dalam hidup. Ketenangan dalam hidup salah satunya lahir kebahagiaan yang kita peroleh. Kebahagiaan sangat bergantung dari bagaimana persepsi dan pengelolaan diri kita. Untuk itu, ketenangan dan kebahagiaan haruslah di ciptakan bukan hanya sekedar dicari atau di tunggu kedatangannya.
Shalat dan stres sudah menjadi dua hal yang saling berkesinambungan. Jika kalian termasuk orang yang mudah stres atau galau dalam menjalani kehidupan sehari-hari, saya sarankan untuk mengikuti terapi shalat sesuai dengan syariat islam, dan juga tidak lupa untuk selalu menjadi pribadi yang selalu memperbaiki diri dalam kualitas shalat, baik dari segi jumlah maupun kekhusyukan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar